Janji Yang Sempurna

Berbalut sepi…

Saat do’a tulus ini kulesatkan

Bersama tangis dan air mata kerinduan

Kabar gembira yang dijanjikan.

  Baca Lanjutannya…

Rindui Aku…

Rindui Aku,

meski hanya lewat doamu…

Pernah kita menerjang seribu malam tanpa bintang

Mendayung sampan harapan menuju dermaga kemenangan

Akrabi setiap badai yang coba goyahkan

Janji yang pernah kita tautkan.

Pernah aku rasakan getir amarah, indah senyum dan hangat tawamu

Isi lembaran hari, lukis indah kanvas kehidupan

Kini, kita terpisah langkah

Entah kemana mata angin menuntunmu

Terbang bersama jutaan kenangan, yang membuat aku rindu

Kawan…

Telah aku sematkan doa di sayap malaikat

Agar engkau tahu, rinduku tak pernah berkarat.

Rindui aku, meski hanya lewat doamu…

(Teruntuk semua sahabat, yang silih berganti mewarnai hari. memenuhi jiwa dengan kesyukuran, karena kalian telah diciptakan, untukku…)


Kemenangan Vs Ketakwaan

Terlalu dini mungkin untuk membicarakan tentang kemenangan Ramadhan tahun ini. Baru 13 hari terlewati untuk mengisi pundi-pundi amal kita, dengan pahala-pahala yang di sebarkan oleh Allah seluas-luasnya. Namun sebagai bahan perenungan, tak berlebihan rasanya kita mencoba untuk sejenak memutar memori mengenai hari-hari yang telah kita lalui sampai dengan hari ini. Setidaknya kita bisa memperbaiki amalan kita jika ternyata masih “kurang sukses” dalam misi kita meraih kemenangan. Karena kemenangan adalah cita-cita semua orang ketika menjalani ramadhan, dan kemenangan kita diakhir ditentukan oleh kemenangan kita dalam meniti hari-hari sebelumnya.

Baca Lanjutannya…

Ramadhan Terakhir

Dari Notes FB

Tak mampu kutahan, detik yang bergerak perlahan
Sedang aku terlalu lelah mengimbangi, terlalu sering aku kalah.

Ya Rabb…
Begitu cepat waktu berlalu
Begitu tenang Ramadhan menjelang

Baca Lanjutannya…

Islamic Widget

Salah

Mengapa tak sedikit kau tajamkan

Rangkai kata yang kau sampaikan

Hingga lukanya tak terlalu menyapa perih

Cukuplah ia mengalirkan kesedihan

Rupanya…

Aku keliru menterjemahkan isyarat

Yang memang tak menjelma

Senyata Bait

Dalam tiap helai puisi

Sepasang Puisi Kembar Tidak Identik

Dari Notes FB

Semoga bisa menjadi renungan bagi yang semakin hari semakin kehilangan waktu

Dua Tujuh

Aku tak berharap
Engkau membawa setangkai lilin
Yang lalu tak berharga,
Mati…
Deret tulusmu saja, kataku

Tak pernah kupikir
Ganjil atau genap
Duatujuh itu

Karena, aku tak pernah tahu
Siapa kan menjadi kawan
Bila duatujuh itu digenapkan.

Dua Delapan

Berapa detik telah engkau genapkan
Ditiap duadelapan
Bersama bumi yang mendekati
Akhir revolusi sempurnanya?
Sedang setiap yang kau punggungi
Tak pernah bisa dipungut lagi

Merasakah, bahwa kau baru saja melangkah
Sedang ujung waktu terlalu rindu
Untuk mendekapmu erat
Ditempat yang tak pernah kau tahu
Dalam wujud apa
Ia kan menyapa mata?

Untuk dua adikku yang kebetulan lahir pada tanggal dan bulan yang sama
i love you full

Pluralisme dan Defensive Apologetic a la “My Name Is Khan”

Apakah anda termasuk penggemar film? Kalau ya, berarti anda juga tidak melewatkan kehebohan yang ditimbulkan saat film Bollywood yang satu ini dirilis. Yup, My Name Is Khan. Terlepas dari pro dan kontranya di India, film ini laris manis bak Blackberry (biasanya pake istilah kacang goreng, tapi kayaknya dah kalah laris sama BB) di negeri barat. Kesuksesan ini tentusaja merupakan sebuah hasil dari kolaborasi apik pemain utamanya, serta kepiawaian sang sutradara dalam meramu cerita. Shah Rukh Khan (Rizwan Khan) dan Kajol Devgan (Mandiira), begitu apik berperan dibawah arahan Kahar Johan.

Di Inggris, film yang berkisah tentang perjalanan hidup Rizwan Khan (seorang muslim penderita Sindrom Asperger) dalam menebus kembali cinta Mandiira (seorang wanita Hindu) ini berhasil masuk Box Office. Sebuah prestasi luar biasa bagi sebuah “film asing”. Di Amerika, film ini di klaim sebagai film paling laris yang dibintangi oleh Shah Rukh. Apalagi, setting latar film ini memang di Amerika, tepatnya di San Fransisco. Baca Lanjutannya…

Satu Tubuh

Siang ini, sebagaimana telah diwajibkan bagi setiap muslim, aku beranjak menuju masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at. Meskipun dengan sedikit tertatih karena luka di telapak tangan dan terutama lutut belum sembuh akibat musibah dua hari sebelumnya, aku tetap bersemangat menuju masjid. Jaraknya memang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 700 meter dari kantor tempatku bekerja. Sesampainya di Masjid yang diberi nama Salman Al Farisi itu, aku mendirikan shalat sunnah, masih disertai dengan seringai tanda menahan nyeri. Tak berapa lama, sang khatib menuju mimbar dan mengucapkan salam, tanda sudah masuknya waktu dzuhur (jum’at). Baca Lanjutannya…

Membenci Riuh

Denting kedua yang kau petik
Belum juga mengantar sunyi
Mengunci sepi
Karena riuh yang terserak
Telah merenggut malam

Tak ada yang salah
Bila terang datang pada gelap
Tak pernah sebagai kawan

Tapi, apa mereka membenci?
Atau tak lagi perlu
Untuk melafadz harap
Dan mencucur airmata

Diam pun tak menjawab.
Ia bahagia
Dengannya sendiri
Karena sunyi terlanjur membenci riuh.

PCL 271109

“Hidup ini hanya sementara bung”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.